Preparing the second year.

Bismillah.

Tahun ajaran pertama telah berlalu, sekarang saatnya bersiap menghadapi tahun ajaran baru. Tahun pertama isinya adaptasi, ditambah pandemi tentu saja prosesnya bertambah lebih sulit dari adaptasi pada umumnya. Terseok-seok bisa dibilang. Tapi, selalu mantra yang paling mujarab adalah: “jalani aja, nanti bakal lewat juga”.

Menuju tahun kedua, Alhamdulillah sempat dikasih waktu sendiri untuk berpikir dan merenungi setahun kemarin dan merencanakan tahun(-tahun) berikutnya. Menyusun strategi ini-itu walaupun pelaksanaannya liat nanti, belum tau. Pokoknya disusun dulu, sebagai referensi untuk melangkah besok-besok. Beberapa hal yang jadi catatan di antaranya:

Punya jadwal yang jelas dan teratur

Aku menyadari kalau aku termasuk orang yang controlling. Maka di antaranya segala hal yang penuh ketidakpastian ini, satu hal yang bisa aku lakukan adalah membuat perencanaan dan mengatur diri sendiri. Sebenarnya aku sudah biasa jadi orang yang teratur dan terjadwal. Aku juga sadar kalau aku bisa function dengan baik kalau aku punya rutinitas yang lumayan rigid. Contohnya waktu aku menyelesaikan master’s thesis, aku punya jadwal harian yang selalu sama: bangun jam 8 atau 9 pagi, berangkat ke UB naik bis jam 10:21, lalu sampai di UB jam 11 kemudian mulai bekerja, pulang ke rumah naik bis jam 23:20, sampai rumah jam 00:00, tidur jam 02:00. Bukan rutinitas yang sehat memang, dan tentu tidak akan kuulang lagi. Tapi, punya jadwal teratur gitu membuat badan dan otakku otomatis produktif dan bekerja.

Tapi, sayangnya satu tahun pertama kemarin belum berhasil punya jadwal bekerja yang rapi dan teratur. Bangun dan tidur pun jadwalnya masih berantakan sekali. Selama tahun pertama kemarin aku mencoba hidup tertata seperti aku yang biasanya, tapi belajar dan bekerja di rumah itu sulit sekali ya. Ada saja yang harus dilakukan di tengah-tengah kekhidmatan bekerja.

Juga karena aku punya double roles (sebagai PhD student dan TA), jadi tentu saja ada pekerjaan-pekerjaan tambahan di awal minggu yang tiba-tiba datang tidak terencana. Sebagai anak baru dan anak buah (yang Indonesia sekali jadi sangat sungkanan), akhirnya mengiyakan lalu rencana buyar lalu keteteran.

Belum lagi sebagai PhD student yang rasanya sudah tidak muda lagi — sehingga otak tidak lagi bekerja seencer dan secepat dulu — banyak hal pekerjaan yang selesai lebih lama dari yang diperkirakan. Yang kupikir bisa selesai satu jam, akhirnya jadi setengah hari.

Untuk tahun kedua, karena semoga sudah lebih familiar dengan apa-apa yang harus dikerjaan, semoga bisa lebih cepat, terencana, dan tentu saja selesai dengan baik.

Show up

Aku akui dengan berani kalau aku orang yang sangat perfeksionis. Maka dari itu aku sangat terencana dalam melakukan apa-apa, supaya tidak ada yang salah bahkan dari step pertama. Tapi, sifat perfeksionisku ini malah jadi boomerang buatku. Pertama, aku jadi ragu untuk melangkah. Atau lebih praktisnya lagi aku jadi menunda alias procastination. Yang kedua, karena aku perfeksionis aku jadi bekerja dengan sangat lambat. Takut sekali gagal dan mengecewakan orang (atau diri sendiri?).

Perasaan aku harus sempurna sebelum aku melangkah juga membuatku diam begitu saja. Contoh paling dekatnya, aku menunda menuliskan beberapa hal di blog ini karena aku kepingin bagus sekali menulis. Harus siap mood-nya, harus siap idenya, harus lancar menulisnya, harus ini harus itu.

Jadi mulai hari ini dan besok-besok aku ingin menjadi orang yang: mulai aja. Kerjain aja dulu. Baca/tulis aja dulu. Jadiin aja dulu. Nanti juga selesai, soal bagus atau gak, nanti yuk dibenerin lagi. Seperti setiap Senin pagi yang rasanya malas sekali, berangkat dulu aja ke kantor. Buka dulu aja laptopnya. Nanti juga akan kerja dengan sendirinya, bukan?

Pokoknya harus ada yang dikerjain, progres sedikit juga progres. Satu pangkat 1.00001 juga jadi angka yang lebih besar terus. Daripada diem aja gak ngapa-ngapain akhirnya gak jadi apa-apa, kan?

(Paksa diri untuk) istirahat.

Satu perasaan yang sering muncul di tahun pertamaku adalah: perasaan bersalah kalau aku istirahat dan tidak ngapa-ngapain. Hal ini menjadi by product dari sifat-sifat sebelumnya: perfeksionis dan menunda. Akhirnya tidak ada yang selesai, akhirnya progres menjadi sangat lambat, dan akhirnya merasa aku harus kerja terus gak boleh istirahat karena aku belum ke mana-mana.

Tapi, ternyata itu gak sehat. Dan aku baru sadar ketika akhirnya summer holiday kemarin aku beneran gak ngapa-ngapain selama sebulan. Di situ aku menyadari pentingnya jeda dan melakukan hal lain selain bekerja dan memaksakan diri untuk bekerja.

Satu tahun pertama kemarin aku memang tidak seperti diriku yang biasa. Karena jujur saja, aku pemuja hidup yang seimbang. Aku dulu sangat strict dengan jadwal kerjaku, jadwal tidurku, dan juga jadwal bersenang-senangku. Tapi setahun kemarin, ajakan istirahat dan jalan-jalan menjadi satu pekerjaan atau beban tambahan di hidupku.

Dulu aku sempat bertanya ke diri sendiri:

Dan hari ini aku menemukan jawabannya bahwa yang kedua jauh lebih baik.

Sebenarnya aku masih meraba-raba seberapa banyak waktu istirahat yang kubutuhkan? Istirahat yang seperti apa yang harus kulakukan? Apakah tidak bekerja lalu menonton Netflix sudah cukup dibilang istirahat? Apakah tidak membaca journal article tetapi membaca novel juga istirahat? Semoga aku bisa ketemu sela yang pas dengan cepat.

Have someone to talk to

Yang ini kupikir bakal jadi beda-beda di tiap orang, tetapi karena PhD adalah pekerjaan sendiri dan akan menjadi the lonely job, aku pikir sangat penting untuk selalu punya teman bicara. Bukan hanya teman yang bisa mengerti apa yang kamu kerjakan, tetapi teman yang bisa berempati dengan perjalanan kita. Semester awal kemarin aku kepayahan sekali, karena memulai perjalanan ini dari rumah. Bertrmu supervisor 3 minggu – sebulan sekali, itu pun hanya lewar layar. Tidak kenal dengan kolega, tidak kenal dengan situasi kerja. Semester pertama aku stuck dengan topikku sampai diawal semester dua diputuskan aku untuk ganti topik. It happened.

Supervisorku akhirnya menanyakan permasalahanku dan kuakui aku kesepian dan kebingungan. Akhirnya beliau memutuskan aku boleh datang ke kampus seminggu sekali dengan membawa justification letter (waktu itu di Belgia sedang total lockdown). Dari situ aku mulai menemukan ritme kerjaku, bertemu sesekali dengan beberapa mahasiswa doktoral lainnya yang juga baru memulai ataupun sudah lebih senior, akhirnya jadi sering berbagi cerita. Bahkan aku menemukan teman yang memiliki topik yang mirip denganku, sehingga kami mengambil kelas yang sama dan sering berdiskusi.

Memiliki teman untuk mengobrol hal lain pun juga penting, aku bersyukur menjalani perjuangan ini bersama suamiku. Dia jadi sumber energiku ketika aku kehilangan pegangan. Dia yang mengajarkanku mantra ‘dikerjain aja dulu’.

Kadang kalau kita cerita atau mengeluh tentang perjalanan studi doktoral dengan teman-teman yang tidak menjalaninya, bisa jadi keluhan kita disepelekan. Karena ‘kamu kan pintar, sudah sampai S3 begitu, pasti bisalah’. Padahal studi doktoral bukan tentang pintar-pintaran, tapi tentang endurance dan melawan diri sendiri.

Bercerita ke orang bukan hanya tentang kesusahan, tetapi juga tentang merayakan small wins, meng-update kehidupan di luar studi, serta saling bersilahturahmi karena sejatinya kita manusia kan makhluk sosial,

Kalau rasanya sudah payah sekali, tidak salah juga berbicara dengan profesional. I thank to all my friends who randomly chat me and said ‘telfon yuk’, then we ended talking for hours about mundane things in life.

Tahun kedua ini juga akan jadi tantangan baru karena suamiku Alhamdulillah akan memulai studi masternya di KU Leuven :). Hamdallah, segala puja puji hanya untuk Allah Tuhan Semesta Alam. Sesungguhnya aku lebih excited akan hal ini daripada apa yang terjadi diriku sendiri tahun kemarin. Aneh, ya? Walau di satu sisi, kami lumayan ketar-ketir gimana nih ngurus makan dan lain sebagainya? Tapi, kami ingat sekali lagi. Kalau dulu kami bisa commuting setiap hari berangkat jam 5:20 pagi dari Bekasi terus pulang ke rumah lagi sampai jam 18:00, dan masih bisa masak sendiri, beberes rumah sendiri tanpa ada ART sama sekali, harusnya di sini juga bisa.

Selain sebagai pembuka, aku juga akan menutup postingan ini dengan: Bismillah.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s