What I think (and learn) about Belgium after two years.

Beberapa hari yang lalu aku memulai draf tulisan refleksi tahunanku, karena sebentar lagi mendekati dua tahun sejak kepindahanku ke Belgia. Biasanya aku menuliskan tentang perkembangan diriku dan status diriku pada saat ini. Namun, saat aku sedang memikirkan apa-apa yang akan kutuliskan, muncul sebuah pertanyaan di kepalaku: bagaimana tentang perkembanganku berasimilasi dengan kehidupan di Belgia? Apakah impresiku akan Belgia berubah dari sejak aku tiba sampai hari ini?

Sebagai latar belakang, delapan tahun lalu aku pernah tinggal di Belanda selama 1.5 tahun. Itu adalah pengalaman pertamaku pindah ke luar negeri, dan dengan gegap gempitanya aku berusaha sekuat tenaga untuk mempelajari dan memahami kultur kehidupan di Belanda. Terlebih pada saat itu aku tinggal bersama keluarga Indonesia yang sudah tinggal di Belanda selam kurang lebih 8 tahun. Dari merekalah aku belajar mengenai “Living in the Netherlands as a foreigner 101”.

Berangkat dari pengalamanku di Belanda dan asumsi sok tahuku tentang Belgia (‘ah Belgia kan negara kecil dan sebelah Belanda juga, ga akan terlalu beda lah..‘), maka dua tahun lalu aku tidak menyiapkan dan mempelajari apa-apa tentang hidup di Belgia. Keadaanlah yang akhirnya membuatku merasa perlu untuk lebih mempelajari dan mengenal tentang Belgia.

Aku pada dasarnya adalah seorang observant, suka sekali mengamati tentang manusia berikut kebiasaan dan budayanya. Karena itu aku ga akan ngebahas hal yang udah lumayan populer tentang Belgia (bir, coklat, dan waffle). Aku lebih akan ngebahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yang bisa kuamati. Semoga daftar berikut bisa jadi gambaran tentang kehidupan di Belgia.

Disclaimer: Kerajaan Belgia ini terbagi menjadi tiga region, Flanders (berbahasa Flemish — rada mirip Belanda), Wallonia (berbahasa Perancis), dan Brussels (berbahasa campur). Aku sendiri tinggal di Wallonia Region, jadi apa yang aku tulis di sini barangkali hanya berlaku untuk Wallonia Region.

Fleksibilitas

Sungguh dibandingkan dengan orang Belanda yang rada ‘kaku’ dan teratur, orang Belgia termasuk lebih santai dan fleksibel. Masalah waktu misalnya. Di Belanda, semuanya terjadwal, tercatat di agenda, dan tepat waktu. Tapi, di sini tidak :). Terjadwal iya, tercatat iya, tepat waktu? Gak sebegitunya. Masih bisalah kita kasih toleransi 5-10 menit. Apakah itu janjian sama teman, rendezvous (appointment) dengan dokter atau instansi tertentu, atau mengenai service level layanan tertentu (janjinya jadi 5 hari, bisa mundur berhari-hari atau bisa berminggu-minggu — tapi yang terakhir karena covid sih..).

Kalau untuk bagian yang ini aku lebih cocok sama budaya Belanda, karena aku orangnya teratur dan on time. Bus dalam kota di Wallonia, hampir ga pernah tepat waktu :)), walau makin ke sini makin baik. Kemacetan di mana-mana juga soalnya. Sampai salah satu  temanku selalu bilang, “ga ada gunanya tau liat jadwal bus di aplikasi”. Tapi, ketidaktepatan waktu di Belgia ga parah-parah banget sampe bikin dongkol sih. Cuma ya, ekspektasiku sebagai negara maju, mestinya hal ini ga jadi isu bukan?

Tentang fleksibilitas berikutnya adalah terkait rapat. Kalau di Belanda rapat itu efektif dan efisien, kita cuma ngomongin yang memang ada di agenda, dan agendanya pun ringkas. Kalau di tempatku, ya kita bisa memulai rapat dengan ngobrol basa-basi dulu dikit seperti di Indonesia. Nanya tentang kabar bisa diakhiri dengan curhat :)). Terus rapat boleh kok diagendakan lebih dari 1 jam, dan bisa juga kok rapatnya molor :)).

Keterbukaan

Aku merasa orang di Belgia lebih open terhadap orang baru dan lebih ramah dibanding dulu waktu aku di Belanda. Dulu sama temen-temenku di Belanda, kalau lagi ketemu gitu kita paling ngomongin soal “cuaca” (Haha!) dan hal-hal remeh-temeh yang terjadi di sekitar. Tapi di Belgia, bisa lho kita cerita masalah pribadi dan keluarga pada saat makan siang bersama. Enaknya dengan keterbukaan ini, mereka juga sangat terbuka untuk membantu kita secara tulus dan 100%, bukan basa-basi semata. Sudah beberapa kali aku dibantu oleh beberapa kolega dan teman di sini, mereka willingly membantu dan sampai tuntas.

Dan ya satu lagi, gossip is normal! Aku kaget karena di sini gapapa banget ngomongin orang lain di belakang. Kupikir rada tabu dan cuma bisa dibicarakan dengan yang udah deket banget. Tapi, ternyata ga juga. Aku bisa tiba-tiba terlibat dalam gosip dengan kolega yang baru ketemu ketika lagi mengawas ujian :)).

Sopan santun

Untuk orang Wallonia, rasa ga enak itu masih ada banget. Contoh sederhananya, kalau kita lagi nelfon instansi tertentu (misal: urusan listrik, air, pajak, dll yang memang pekerjaannya), baiknya diawali dengan kalimat “Bonjour, excuse-moi de vouz déranger” (Halo, mohon maaf mengganggu waktunya). Sama banget ga sih kayak di Indonesia?!

Beda kalo di Belanda yang sangat direct dan to-the-point. Ada ungkapan yang baru-baru ini kupelajari tentang bedanya Belgia dan Belanda, “Dutch people, too honest to be nice. Belgian, too polite to be honest“. Makanya mungkin budaya gosip atau ngomongin orang di belakang masih menjamur juga ya, karena masih ada ga enakan untuk ngomong langsung di depan orangnya.

Tentang keluarga

Dengan prejudice sederhanaku bahwa orang bule pasti keluar rumah once lulus kuliah atau punya pasangan, ternyata di Belgia masih ada juga (dan cukup banyak) yang masih tinggal sama orangtua setelah mereka lulus dan lama bekerja. Alasannya ya sama kayak di Indonesia: finansial (mending duitnya gue tabung sendiri atau buat foya-foya dibanding buat sewa/beli properti) dan masalah kedekatan (bonding). Kehidupannya masih berpusat pada keluarga dan ga terlalu individualis. Kalaupun ga tinggal serumah lagi, mengunjungi keluarga atau orangtua tiap akhir pekan itu udah jadi rutinitas. Bahkan sama sepupu juga masih dekat dan akrab.

Di Belgia juga masih usum titip-titip anak ke orangtua (kakek-neneknya). Dengan kondisi kedua orangtua adalah working parents, maka seringkali para orangtua harus menitipkan anaknya ke daycare selesai mereka sekolah sampai para orangtua selesai bekerja. Namun, tidak jarang kakek/nenek menjemput cucunya sekolah lalu menjaga mereka sampai orangtuanya pulang dari kantor. Pemandangan yang hangat, bukan?

Tentang sekolah

Sekolah (dasar dan sekunder) di Belgia cukup sibuk. Anak-anak sekolah hampir seharian (sampai pukul 14 atau 15), dan juga masih ada PR. Bukan hal yang langka melihat anak-anak sekolah di sini membawa tas yang berat dan besar, karena mereka butuh banyak buku dan hampir semua buku dibawa ke sekolah. Anak-anak juga sibuk dengan ekskul sepulang sekolah. Sepertinya hampir semua anak punya ekskul, udah kayak kewajiban.

Sistem sekolahnya pun rada mirip di Indonesia, nilai sekolah itu jadi sesuatu yang penting untuk mengukur keberhasilan. Salah satu kolegaku di kantor menyekolahkan anaknya di sekolah yang rada beda gitu kurikulumnya dengan kurikulum di Belgia. Dia rada kaget karena anaknya ga ada PR, orang tua ga dikasih report tentang perkembangan anak di sekolah, ga dikasih nilai juga untuk mengukur pencapaian sang anak, dll. Sedangkan aku taunya kalau di Belanda itu adalah hal yang biasa!

Karena aku di kampus juga mengajar, aku juga bisa melihat attitude students di sini. Ada yang bilang katanya anak Belgia itu pemalas (terutama Wallonia). Kayaknya bener juga? Haha! Tapi, yang ini aku kurang yakin juga. Karena faktor pandemi sehingga mereka harus mengalami SFH selama kurang lebih dua tahun dan beda generasi juga (students-ku gen Z), bisa jadi not necessarily cuma karena mereka adalah Belgian.

Sistem kesehatan

Sistem kesehatan di Belgia rada mirip sama BPJS di Indonesia. Setiap orang harus punya asuransi kesehatan (atau disebut mutuelle). Sistemnya ya sama kayak BPJS, bayar iuran untuk sistem saling tolong menolong. Kalau kita berobat ke dokter kita masih harus bayar, namun sangat murah karena ada subsidi silang itu. Pun kalau beli obat.

Oh ya, sejauh pengalamanku, dokter di sini masih agak ‘ringan’ kasih obat dibanding dokter di Belanda. Kalaupun menurut mereka ga perlu obat, tapi kita minta, itu masih diresepin. Inget banget waktu dulu di Belanda, aku pernah sakit parah (demam, sakit tulang dll), telfon huisart untuk minta afspraak, cuma dijawab “oh kamu minum saltwater aja”. Jujur ga ngerti sampe nanya berkali-kali, akhirnya dia bilang “just eat chicken soup“. Baiiik.

Sebagai anak Indonesia asli generasi antibiotik, tentu saja tidak cukup. Untung aja waktu itu ada temen yang baik hati ngobatin aku (ngasih treatment bekam).

.

Bahasa

Ah yang ini, terakhir tapi paling mind-blowing!

Di Belgia ada tiga bahasa resmi, Flemish (Belanda), French, dan German (walaupun yang German speaker itu sedikit banget sih..).  Indonesia juga punya banyak bahasa daerah, tetapi paling ga kita punya satu bahasa nasional resmi yang menyatukan kita semua, bahasa Indonesia.  Nah, di Belgia ini ga ada! Setiap region bicara bahasanya masing-masing. Dan makin ke sini, belajar bahasa region lain udah ga jadi kewajiban lagi di sekolah-sekolah. Sungguh aneh!

Masing-masing region punya stasiun TV-nya sendiri-sendiri. Kalaupun ada stasiun resmi negara, maka satu topik berita akan disampaikan tiga kali (atau at least dua kali) dalam bahasa yang berbeda. Inget banget lagi zaman pandemi masih anget-angetnya, aku jadi sering nonton berita di TV kan untuk ngikutin perkembangan kasus dan measure apa yang akan diterapkan di pekan depan. Itu suka kecele dan bingung. Sedetik pembawa acara ngomong bahasa Perancis, detik kemudian dia bisa tiba-tiba ngomong bahasa Belanda.

Atau yang paling aneh, institusi nasional punya nama yang berbeda di tiap region, kayak bank (CBC in French, KBC in Dutch) dan perusahaan kereta nasional (SNCB untuk nama French, dan NMBS untuk nama Dutch; ini aneh banget sih sangat tidak intuitif!). Aku pernah muter-muter di kotaku cari bank KBC buat ambil uang, yang setelah beberapa lama baru sadar bahwa di tempatku nama banknya CBC :)).

Bahkan nama resmi sebuah kota itu bisa beda di setiap region. Kota tempatku tinggal punya tiga nama resmi: Liège (French name), Luik (Dutch name), dan Lüttich (German name). Jadi jangan heran kalau lagi naik kereta di Belgia dan harus cross border antar region, tiba-tiba kota tujuanmu ga muncul di layar! Bukan keretanya yang berubah arah, namun nama kotanya berubah sesuai dengan lokasi di mana keretanya sedang berada :)).

Kolegaku cerita, dia (orang Walloon) pernah meeting dengan orang Flemish, terus pas meeting mereka pake bahasa masing-masing! Bukan bahasa Inggris, atau salah satu mengalah gitu. Daebak! Bisa saling ngerti :)).

Katanya kalo orang Walloon karena bahasa mereka bahasa Perancis, mereka merasa superior. Juga merasa ngapain sih belajar bahasa Flemish, yang pake juga cuma orang Flemish dan Belanda. Kayak ga ada keperluannya aja. Apalagi kan bahasa Perancis banyak yang pake juga ya di banyak negara (typical French people lah..). Nah, kalau dari sudut pandang orang Flanders aku belum terlalu paham kenapa mereka ga bicara bahasa Walloon, karena aku ga kenal deket orang Flanders. Tapi, karena aku dulu belajar bahasa Belanda dan sekarang aku lagi belajar bahasa Perancis, aku jadi ngeh perbedaan bahasa Belanda yang asli dan bahasa Belanda-nya Flemish. Ada beberapa istilah di Flemish yang kebawa dari bahasa Perancis. Dan cara ngomong orang Flemish juga lebih mendayu-dayu, ga sedatar orang Belanda asli.

Segitu dulu kali ya.. Udah banyak banget kayaknya. Aku merasa orang Belgia beserta kehidupannya rada mirip-mirip dengan Indonesia. Atau bisa jadi juga karna kota tempatku tinggal lumayan melting pot dan multicultural, jadi agak kurang representatif kehidupan Belgia asli?

Anyway, so far sih aku mulai terbiasa dengan pola dan sistem kehidupan di Wallonia. Barangkali besok-besok aku bisa cerita lebih banyak tentang kehidupan di Flanders :). Dua tahun di Belgia? Not so bad!

P.S. Beberapa poin di atas juga aku dapatkan dari berbagai sumber lainnya:

https://www.justlanded.com/english/Belgium/Belgium-Guide/Culture/Belgian-cultural-cliches

https://www.quora.com/What-are-the-major-stereotypes-people-have-about-Belgium-and-to-what-extent-are-they-true

5 thoughts on “What I think (and learn) about Belgium after two years.

  1. Menarik banget ya, aku ngga terlalu tau Belgia juga, taunya negara penghasil bir dan komik terkenal hahaha. Cuman baru sekali ke Brussels dan ke Gent doang. Pengen balik kesana lagi untuk puas2in minum macem2 birnya.

    Soal ketelatan dan politenessnya aku juga baru tau, kirain northern europeans 11-12 lah ya. Ternyata…

    Like

    • Ngomong-ngomong soal bir, ada salah satu kebiasaan di Belgia: kalau ada acara atau festival tertentu, tiba-tiba bisa ada brand bir baru yang dikeluarin khusus terkait acara/festival tersebut :)) kurang tau juga apa itu jenis bir lama yang di rebrand atau bener-bener jenis campuran bir baru..

      Like

      • Kalau di Denmark banyak banget yg namanya craft beer alias bir yg di brew dengan modal eksperimen, jadi banyak banget jenisnya mmg. Aku rasa di Belgia yg punya sejarah panjang dengan bir jg suka eksperimentasi (jadi brewing bir baru), beda sama negara Jerman yg ada reinheitsgebot yg mengatur ke”murni”an jenis2 tipe bir alias ga boleh eksperimen banyak2.

        Lain kali aku mungkin ngeblog soal bir ya secara aku aga beer nerd juga disini.

        Liked by 1 person

  2. Hai Anisha, salam kenal ya dari aku, Deny.

    Tau tulisanmu ini dari akun Kutubuku (yang komen sebelum ini) karena aku menuliskan tentang orang Belanda yang tanpa basa basi. Aku tinggal di Belanda jalan 8 tahun. Aku mengamini 90% dari tulisanmu tentang orang Belanda. Membaca sambil ngikik ketawa haha. Dan terima kasih sudah menuliskan karena beberapa waktu lalu ada yang membaca tulisanku dan komen kalau orang Belgia itu mirip orang Jawa Tengah. Karena aku menganalogikan kalau orang Belanda ini seperti orang Jatim bagian “timur.

    Like

    • Halo Mbak, salam kenal juga! Terima kasih sudah mampir ke blogku 🙂

      Barusan juga habis baca tulisan Mbak yang tentang basa-basinya orang Belanda. Kebetulan aku sering bolak-balik Belanda juga, karena tinggal di perbatasan + suamiku kerja di Belanda. Kami sering diskusi juga tentang bedanya Belanda sama Belgia, kadang-kadang suka lupa menempatkan diri karena keseringan bolak-balik :’)

      Wah, iya juga ya! Sebuah analogi yang pas bgt, Jateng – Jatim = Belgia – Belanda :)) Heran padahal dua-duanya juga sebelahan, tapi bisa beda banget karakternya haha.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s